r0n660

Archive for Maret, 2009|Monthly archive page

complacency

Dalam nasional di Maret 4, 2009 pada 2:15 am

shoring-11

Deng Xiao Ping pada paruh akhir 1970-an membuat sebuah blueprint yang sangat komprehensif. Demikian dipaparkan Professor Gregory Chow dalam bukunya ”China’s Economic Transformation”. Kini, hampir 40 tahun setelah menetapkan rambu-rambu kebijakan berkesinambungan; proses implementasi; memonitor hasil implementasi; mengukur keluarannya; jadilah China yang sekarang.

Visi Indonesia 2030 untuk masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia juga telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu. Visi itu disusun oleh Yayasan Forum Indonesia. Didukung kajian berbagai lembaga penelitian sejumlah universitas, LIPI, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Kredibilitas dan kapasitas intelektual yang tak perlu diragukan.

Visi Indonesia 2030 sangat mungkin bisa dicapai asalkan asumsi-asumsi yang mendasarinya juga bisa dipenuhi. Pertanyaannya, apakah visi itu dipersiapkan dengan seksama, berdasarkan tren dan kondisi riil yang bisa dicapai? Apakah visi itu mampu mengikat semua komponen bangsa sebagaimana yang berlangsung di China? Baca entri selengkapnya »

Diproteksi: Visi

Dalam nasional di Maret 4, 2009 pada 1:56 am

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

trilyuner

Dalam nakama di Maret 1, 2009 pada 4:43 pm

di tengah teman-teman

di tengah teman-teman

tempat yang di foto nampak indah ini sebetulnya dasar jurang sebuah gunung yang katanya sih angker, di deket bogor sini. deket banget yah.  Sebuah anak sungai selebar kira2 tiga meteran mengalir bening di sela2 bebatuan.

“Proyek” kami di sini kali ini adalah ngebahas bukunya LeBouve “Millionaire in You”.   Halah (abis ngbahas, pak Ketua, Mas Jaka, dengan stil yakin bilang akan jadi trilyuner dalam 17 tahun ke depan). Gw sih, ngimpinya, nulis buku yang jadi bestseller gitu. Amin, ya Allah.

sebelum dan sesudah event yang ini me and friends juga secara berkala ke gunung-gunung di mana aja, tapi yang deket-deket aja. Yang penting meski deket tapi susah juga kalo pengen kabur pulang sendirian. Jadi dipaksa untuk bertahan sampai akhir.

perspektif

Dalam nakama di Maret 1, 2009 pada 3:14 pm

bart-simpson

Saat akan menutup acara Jumat malam 20 Feb ’09, mas BW antaralain mengatakan bahwa ia mengakui kekurangan-kekurangannya. Bahwa ia kurang membaca, tinjauan-tinjauannya yang masih normatif, dsb.
Di satu sisi apa yang dikatakannya itu menunjukkan kejujuran, sportivitas, dan itu sungguh terpuji. Di sisi lain, ungkapan mas BW juga menyiratkan rasa rendah diri.
Saya pun pernah dan kadang masih mengalami perasaan yang sama, mungkin lebih parah. Saya cukup kenal akan segala seluk-beluk perasaan semacam itu. Saya ingat betapa menyakitkannya rasa rendah itu. Tak ingin ku mengalaminya lagi. Lebih dari itu saya pun tak ingin sekiranya sahabat-sahabatku, orang-orang yang kucintai, mengalaminya.
Ndilalah-nya, persoalan ini nyambung dengan topik yang sebelumnya dibahas. Yakni tentang ”tujuan akhir” Istilah Covey, ”cetak biru” : Salah-satu tupoksi Bidang Internal yang paling mendasar adalah mendampingi Ketua ”menggambar cetak biru” Harokah. Bagaimana gambaran ideal duapuluh tahun kedepan, lima tahun kedepan, atau setidaknya tahun depan? Bagaimana menghalau rasa inferior saat mencapainya?
Tugas Admin mengupayakan infrastrukturnya. Bius nyari duitnya, Bidkeu mengksekusi penagihan dan pembiayaan, Humas untuk sosialisasi. KS memastikan Bidang2 bekerja sistemik.
Sungguh! Orang yang merasa rendah akan betul-betul menjadi rendah. Orang yang merasa bodoh akan menjadi bodoh. Dan orang DI, apalagi kabid internal, tidak boleh rendah atau bodoh. Menjadi bodoh adalah pengkhianatan kepada kehendak Allah, karena ”Kamu adalah umat pilihan!”
Ini memang berhubungan dengan iman. Celakanya, kebanyakan kita merasa bahwa rezki yang ia peroleh, misalnya, ditentukan oleh usahanya. Kalau ia bekerja rajin dan pintar maka rezkinya akan bagus, begitu pula sebaliknya. Sepintas lalu pandangan ini tampaknya benar, tetapi sebenarnya terdapat fellacia alias lubang-lubang yang menganga dalam pendapat itu. Dan kita bisa kejeblos di dalamnya.

Pangeran Charles tidak cukup rajin dan pintar, sebagaimana Dodi Al Fayed, selingkuhannya Lady Di, juga tidak rajin dan pintar. Tapi mereka mandi uang.
Sebaliknya, ada banyak orang superjenius dan produktif tetapi wafat dalam keadaan melarat. Max Havelaar luntang-lantung di kaki-lima Bremen yang kelam dan basah. Dan Joan D’Arch, panglima perang yang penuh luka itu, berakhir disalib rajanya sendiri yang tak tahu berterimakasih.
Di kalangan supir angkot waktu saya nyupir dulu, seorang teman mengatakan, “ah, rejeki mah ngga bakalan ketuker.“
Si Roni menyahut, “Siapa bilang! Coba aja lu ngintil di belakang si Ma’il yang molor (asik menaik-naikkan penumpang di sepanjang jalan). Dijamin kita nggak bakalan kebagian sewa.” Semua ketawa.
Saya terkesima. Benar juga, pikirku waktu itu. Rasanya dalam hal ini rezki tak lagi ditentukan oleh Tuhan. Rezki kita ditentukan oleh seberapa gigih dan lihai kita “ngatur slah”.
Ngawur, tentu saja. Yang benar adalah bahwa ketentuan Allah tentang rezki kita tidak pernah bertentangan dengan sunnatullah. Karena “ngatur slah” adalah bagian dari memenuhi sunnatullah. Tetapi kegigihan dan kelihaian ”ngatur slah” bukanlah satu-satunya faktor.
Persoalannya, sudahkah kita memenuhi segala syarat yang dituntut oleh sunnatullah untuk mencapai apa yang diinginkan? Kalau kita sudah memenuhi semua syarat untuk naik kelas, maka kita pasti naik kelas. Kalau kita memenuhi semua syarat untuk masuk penjara, kita pasti masuk penjara.
Sayangilah diri Anda! Ajak ia berdialog. Beri dia setiap hari pengetahuan yang akan membuatnya pantas dihormati. Seperti kata Rasulullah SAW, “Allah meninggikan orang yang berpengetahuan beberapa derajat.”
Taruhlah kita tak terlalu peduli dengan segala soal derajat dan tetek-bengeknya yang terasa absud itu. Tapi seorang aktivis harokah sudah seyogyanyalah mewajibkan diri untuk menciduk khazanah ilmu setiap waktu.
Boleh jadi kita kesulitan mengakses telaga ilmu. Tapi paling tidak, kita mestinya sedia bertarung untuk menjangkau parit terkecilnya. Parit yang mungkin mengalir jauh dari telaga, namun masih menjanjikan kesucian wudhu. Dan kesegaran melepas dahaga.
Sehingga solat – dialog kita dengan Sang Rabbi – berisi wawasan baru, topik yang segar; bukan sekedar kekhusyukan yang formalistik dan basi.

written by anjing al kahfi / 22 Feb ’09

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.