r0n660

complacency

Dalam nasional di Maret 4, 2009 pada 2:15 am

shoring-11

Deng Xiao Ping pada paruh akhir 1970-an membuat sebuah blueprint yang sangat komprehensif. Demikian dipaparkan Professor Gregory Chow dalam bukunya ”China’s Economic Transformation”. Kini, hampir 40 tahun setelah menetapkan rambu-rambu kebijakan berkesinambungan; proses implementasi; memonitor hasil implementasi; mengukur keluarannya; jadilah China yang sekarang.

Visi Indonesia 2030 untuk masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia juga telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu. Visi itu disusun oleh Yayasan Forum Indonesia. Didukung kajian berbagai lembaga penelitian sejumlah universitas, LIPI, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Kredibilitas dan kapasitas intelektual yang tak perlu diragukan.

Visi Indonesia 2030 sangat mungkin bisa dicapai asalkan asumsi-asumsi yang mendasarinya juga bisa dipenuhi. Pertanyaannya, apakah visi itu dipersiapkan dengan seksama, berdasarkan tren dan kondisi riil yang bisa dicapai? Apakah visi itu mampu mengikat semua komponen bangsa sebagaimana yang berlangsung di China?

Asumsi Pricewaterhouse Coopers bahwa kemampuan human capital Indonesia sangat memadai untuk membawa bangsa ini menjadi kekuatan ekonomi dunia, mungkin tak terlalu mengada-ada. Kemampuan ini, paling tidak, telah menyebabkan banyak perusahaan minyak di kawasan Teluk  berlomba-lomba mendapatkan tenaga ahli dari Indonesia.

Prof. Dr. Sudarto Notosewiyo, Dekan Fakultas Tambang dan Perminyakan ITB, mengatakan bahwa Indonesia kekurangan insinyur di bidang perminyakan. Antaralain karena banyak tenaga ahli perminyakan yang bekerja di luar negeri (Kompas 29/8/08).

Memang, gaji besar bukan satu-satunya faktor terjaganya talent retention dan loyalitas seseorang akan pekerjaannya. Ada faktor-faktor lain yang tak kalah penting. Misalnya lingkungan yang mendorong peningkatan kemampuan kerja. Tetapi jumlah gaji adalah salah-satu faktor yang harus diperhitungkan.

Kurangnya ahli perminyakan Indonesia di dalam negeri mengakibatkan tidak optimalnya pemanfaatan ESDM nasional bagi kepentingan bangsa. Padahal kandungan minyak dari eks tambang Belanda pun masih sangat prospektif. Ada cadangan blok Cepu dan cadangan yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh. Adalah ironis bila begitu banyak tenaga ahli Indonesia yang bekerja di Petronas.

Kenapa banyak sekali warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan berprestasi di luar negeri, tetapi tidak dapat berbuat banyak begitu masuk kembali ke sistem Indonesia? Mungkin seperti ujaran Hamlet, ”There is something rotten, not in the ‘Kingdom of Denmark’, but here. ” –  Yes, here, in our lovely Republic of Indonesia.

Mengutip MT Zen, Guru Besar Emeritus ITB, salah-satu kelemahan bangsa kita adalah kecenderungan complacency.   Frasa ‘complacency’ tidak ditemui dalam kamus Bahasa Indonesia. Complacency adalah sikap semacam lengah-terlena, lupa menjaga kewaspadaan dan pencapaian, sehingga dilangkahi orang lain.

Bandingkan dengan Norwegia yang telah mengambil alih teknologi minyak lepas pantai Amerika Serikat dalam waktu 10 tahun. “Sesudah 10 tahun tidak ada lagi ahli-ahli Amerika yang bekerja di Norwegia,” tulis MT Zen (Kompas/05/08), “Tak seorang ahli Amerika pun di sana sekalipun modalnya adalah modal Amerika.”

Norwegia dengan mandiri mengembangkan teknologi baru, terutama teknologi enhanced recovery yang mereka adopsi dari Amerika. Berhasil memperbesar cadangan minyak Norwegia tiga kali lipat tanpa menyentuh kawasan-kawasan baru.

Ketidakmampuan Negara mengembangkan teknologi perminyakan merupakan salah-satu complacency. Dan tentang hal ini, industri perminyakan bukan satu-satunya. Indonesia juga memiliki human capital yang kuat dalam berbagai industri lain.

Desain pabrik sepeda motor Honda yang dibuat insinyur Indonesia mampu mengalahkan desain yang disiapkan Jepang. Muatan lokal untuk industri sepeda motor sudah mendekati 100%. Industri sepeda motor di Indonesia telah memproduksi dan menjual jutaan unit sepeda motor pertahun. Di bidang ini telah terbangun komunitas tenaga ahli.

Untuk industri mobil, muatan lokal dewasa ini sekitar 65%. Industri otomotif di Indonesia juga telah mencapai skala ekonomis sehingga memungkinkan untuk menambah produksi secara efisien bagi kepentingan pasar ekspor. Pada 2007, ekspor mobil telah mencapai sekitar 230.000 unit. Dan melonjak hampir 50% di tahun berikutnya.

Berbagai perusahaan otomotif Jepang yang beroperasi di Indonesia diam-diam telah menempatkan Indonesia sebagai basis produksi industri mobil mereka bagi pasar di luar negeri. Umumnya berupa kendaraan komersial seperti Toyota Innova, Suzuki APV, Daihatsu Terrios, dan Nissan Livina. Begitu banyak insinyur Indonesia terlibat. Begitu banyak tenaga ahli dari bidang lain yang terkait erat dengannya. Ini berarti terbangunnya komunitas tenaga ahli dalam berbagai industri.

Yang belum ada hanyalah sebuah kemauan politik yang kuat. Kemauan politik yang telah membangunkan macan-macan Asia.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.