Seperti biasanya dalam situasi ini, tadi pagi wanita itu pergi begitu saja tanpa ijin suaminya. Dan hal itu diulanginya lagi petang barusan. Secara pribadi gue sih ngga peduli dengan segala isu gender. Gue bukan orang yang gila hormat.
Hanya saja kelakuan wanita itu, dengan segala alasan yang ia miliki, adalah penantangan kepada syariah yang kucoba pegang teguh. Padahal dulu aku meminta dicarikan calon isteri yang baik, sukur-sukur aktivis harokah. Gue nggak minta isteri yang cantik, kaya, atau well educated.
Gue bilang waktu itu, gue gak peduli apakah calon isteri gue itu cuma lulusan TK atau bahkan gak pernah sekolah sekalipun. Yang penting dia baik. Dan gue minta dinikahkan atas nama harokah dan untuk harokah.
Masalahnya di sini adalah bahwa hampir selalu baik-jeleknya anak “ditentukan” oleh ibunya. Anak-anak Nabi Nuh kafir karena ibunya kafir. Sebaliknya Musa AS menjadi soleh karena ibunya soleh, meski ayahnya adalah Firaun. Ibrahim AS juga soleh meski ayahnya kafir. Tapi mungkin ibunya baik. Dan kalau anak-anak gue melecehkan harokah, itu adalah karena ibunya pun demikian.

Ahad pertama ‘09
