
Saat akan menutup acara Jumat malam 20 Feb ’09, mas BW antaralain mengatakan bahwa ia mengakui kekurangan-kekurangannya. Bahwa ia kurang membaca, tinjauan-tinjauannya yang masih normatif, dsb.
Di satu sisi apa yang dikatakannya itu menunjukkan kejujuran, sportivitas, dan itu sungguh terpuji. Di sisi lain, ungkapan mas BW juga menyiratkan rasa rendah diri.
Saya pun pernah dan kadang masih mengalami perasaan yang sama, mungkin lebih parah. Saya cukup kenal akan segala seluk-beluk perasaan semacam itu. Saya ingat betapa menyakitkannya rasa rendah itu. Tak ingin ku mengalaminya lagi. Lebih dari itu saya pun tak ingin sekiranya sahabat-sahabatku, orang-orang yang kucintai, mengalaminya.
Ndilalah-nya, persoalan ini nyambung dengan topik yang sebelumnya dibahas. Yakni tentang ”tujuan akhir” Istilah Covey, ”cetak biru” : Salah-satu tupoksi Bidang Internal yang paling mendasar adalah mendampingi Ketua ”menggambar cetak biru” Harokah. Bagaimana gambaran ideal duapuluh tahun kedepan, lima tahun kedepan, atau setidaknya tahun depan? Bagaimana menghalau rasa inferior saat mencapainya?
Tugas Admin mengupayakan infrastrukturnya. Bius nyari duitnya, Bidkeu mengksekusi penagihan dan pembiayaan, Humas untuk sosialisasi. KS memastikan Bidang2 bekerja sistemik.
Sungguh! Orang yang merasa rendah akan betul-betul menjadi rendah. Orang yang merasa bodoh akan menjadi bodoh. Dan orang DI, apalagi kabid internal, tidak boleh rendah atau bodoh. Menjadi bodoh adalah pengkhianatan kepada kehendak Allah, karena ”Kamu adalah umat pilihan!”
Ini memang berhubungan dengan iman. Celakanya, kebanyakan kita merasa bahwa rezki yang ia peroleh, misalnya, ditentukan oleh usahanya. Kalau ia bekerja rajin dan pintar maka rezkinya akan bagus, begitu pula sebaliknya. Sepintas lalu pandangan ini tampaknya benar, tetapi sebenarnya terdapat fellacia alias lubang-lubang yang menganga dalam pendapat itu. Dan kita bisa kejeblos di dalamnya.
Pangeran Charles tidak cukup rajin dan pintar, sebagaimana Dodi Al Fayed, selingkuhannya Lady Di, juga tidak rajin dan pintar. Tapi mereka mandi uang.
Sebaliknya, ada banyak orang superjenius dan produktif tetapi wafat dalam keadaan melarat. Max Havelaar luntang-lantung di kaki-lima Bremen yang kelam dan basah. Dan Joan D’Arch, panglima perang yang penuh luka itu, berakhir disalib rajanya sendiri yang tak tahu berterimakasih.
Di kalangan supir angkot waktu saya nyupir dulu, seorang teman mengatakan, “ah, rejeki mah ngga bakalan ketuker.“
Si Roni menyahut, “Siapa bilang! Coba aja lu ngintil di belakang si Ma’il yang molor (asik menaik-naikkan penumpang di sepanjang jalan). Dijamin kita nggak bakalan kebagian sewa.” Semua ketawa.
Saya terkesima. Benar juga, pikirku waktu itu. Rasanya dalam hal ini rezki tak lagi ditentukan oleh Tuhan. Rezki kita ditentukan oleh seberapa gigih dan lihai kita “ngatur slah”.
Ngawur, tentu saja. Yang benar adalah bahwa ketentuan Allah tentang rezki kita tidak pernah bertentangan dengan sunnatullah. Karena “ngatur slah” adalah bagian dari memenuhi sunnatullah. Tetapi kegigihan dan kelihaian ”ngatur slah” bukanlah satu-satunya faktor.
Persoalannya, sudahkah kita memenuhi segala syarat yang dituntut oleh sunnatullah untuk mencapai apa yang diinginkan? Kalau kita sudah memenuhi semua syarat untuk naik kelas, maka kita pasti naik kelas. Kalau kita memenuhi semua syarat untuk masuk penjara, kita pasti masuk penjara.
Sayangilah diri Anda! Ajak ia berdialog. Beri dia setiap hari pengetahuan yang akan membuatnya pantas dihormati. Seperti kata Rasulullah SAW, “Allah meninggikan orang yang berpengetahuan beberapa derajat.”
Taruhlah kita tak terlalu peduli dengan segala soal derajat dan tetek-bengeknya yang terasa absud itu. Tapi seorang aktivis harokah sudah seyogyanyalah mewajibkan diri untuk menciduk khazanah ilmu setiap waktu.
Boleh jadi kita kesulitan mengakses telaga ilmu. Tapi paling tidak, kita mestinya sedia bertarung untuk menjangkau parit terkecilnya. Parit yang mungkin mengalir jauh dari telaga, namun masih menjanjikan kesucian wudhu. Dan kesegaran melepas dahaga.
Sehingga solat – dialog kita dengan Sang Rabbi – berisi wawasan baru, topik yang segar; bukan sekedar kekhusyukan yang formalistik dan basi.
written by anjing al kahfi / 22 Feb ’09